Masjidil Haram di Makkah kini mengoperasikan sistem pemantauan kerumunan berbasis teknologi kecerdasan buatan (AI) yang canggih untuk mengantisipasi lonjakan jutaan jamaah selama Ramadan dan musim haji 2026. Sistem ini memungkinkan petugas mendeteksi penumpukan massa secara real-time dan mengambil tindakan pencegahan dengan cepat.
Teknologi di Balik Sistem
Sistem cerdas ini menggunakan jaringan kamera resolusi tinggi yang tersebar di seluruh area Masjidil Haram, dipadukan dengan algoritma AI yang mampu menghitung kepadatan kerumunan, mengidentifikasi jalur pergerakan, dan memprediksi potensi kemacetan. Data diproses secara real-time di pusat komando terpadu yang dijaga petugas 24 jam.
Indikator Digital di Pintu Masuk
Salah satu implementasi paling terlihat adalah pemasangan indikator digital di setiap pintu masuk masjid. Lampu hijau menandakan akses terbuka dengan kapasitas masih tersedia, sementara lampu merah menandakan area telah penuh dan jamaah diarahkan ke pintu lain. Sistem ini secara otomatis memperbarui informasi setiap 30 detik.
Dampak pada Keselamatan Jamaah
"Sistem ini bukan hanya teknologi, tetapi merupakan investasi dalam keselamatan jutaan jamaah," ujar seorang pejabat otoritas Masjidil Haram. Pengalaman tragis insiden kerumunan di masa lalu telah mendorong Arab Saudi untuk berinvestasi besar-besaran dalam teknologi keamanan massa, dan sistem AI ini adalah salah satu hasilnya.
Integrasi dengan Transportasi Publik
Sistem pemantauan ini juga terintegrasi dengan manajemen transportasi publik. Ketika kepadatan di sekitar masjid mencapai ambang batas tertentu, sistem secara otomatis memberikan sinyal kepada operator bus dan kereta Haramain untuk menyesuaikan frekuensi layanan guna mengatur arus kedatangan jamaah.


